Sedangkan impor dari Amerika Serikat sebesar US$144,35 juta atau 11,24 persen, dengan komoditas utama berupa Kereta Api, Trem, dan Bagiannya.
Dengan ekspor sebesar US$550,04 juta dan impor sebesar US$131,66 juta, maka neraca perdagangan Lampung pada Juli 2025 mencatatkan surplus sebesar US$418,39 juta.
Selain perdagangan, BPS Lampung juga mencatat deflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 1,47 persen pada Agustus 2025.
Angka ini lebih rendah dibandingkan Agustus 2024 yang mengalami inflasi sebesar 0,07 persen.
Secara tahunan (y-on-y), Provinsi Lampung mencatat inflasi sebesar 1,05 persen pada Agustus 2025.
“Tingkat inflasi ini lebih rendah dibandingkan Agustus tahun sebelumnya yang tercatat 2,33 persen,” jelas Nila.
Deflasi terdalam terjadi pada kelompok Pendidikan sebesar 18,77 persen, dengan andil deflasi sebesar 1,24 persen (m-to-m).
Sebaliknya, inflasi tertinggi tercatat pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,61 persen, dengan andil inflasi 0,04 persen.
BACA JUGA:Bertahap, Pemkab Pringsewu Perbaiki Tiga Ruas Jalan
Nila menambahkan bahwa terdapat sejumlah komoditas yang menahan laju deflasi dan memberikan andil inflasi secara bulanan (m-to-m).
“Lima komoditas penyumbang inflasi adalah bawang merah (0,14 persen), beras (0,05 persen), parfum (0,03 persen), susu cair kemasan (0,02 persen), dan **sampo (0,02 persen),” ujarnya.
Sementara itu, komoditas penyumbang deflasi terbesar adalah SMA (0,84 persen), SMP (0,39 persen), tomat (0,14 persen), cabai rawit (0,07 persen), dan bawang putih (0,06 persen).
Secara tahunan (y-on-y), kelompok pengeluaran dengan inflasi tertinggi adalah Rekreasi, Olahraga, dan Budaya sebesar 6,67 persen.
BACA JUGA:Anggota Dewan DPRD Metro Diskusi Bersama Aliansi Mahasiswa
Namun, andil terbesar terhadap inflasi umum berasal dari Makanan, Minuman, dan Tembakau, dengan kontribusi 1,36 persen dan inflasi 4,12 persen.