“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu semua kepada Adam!’ Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Dia termasuk (golongan) jin, kemudian dia mendurhakai perintah Tuhannya….” (QS Al-Kahf [18]:50).
Pesan yang kerap ditekankan dari riwayat semacam ini adalah bahwa kedudukan, reputasi, bahkan lingkungan ibadah bisa menjadi ujian ketika seseorang mulai merasa paling tinggi.
Masih dalam rujukan yang sama, disebut pula nukilan tentang nama ‘Azazil dan gambaran kesungguhan ibadah serta keluasan ilmunya, namun hal itu justru menyeretnya kepada kesombongan.
“Ia dikenal sangat kuat dalam kesungguhan ibadahnya dan banyak ilmunya, namun hal itu menyeretnya kepada kesombongan.” (Syekh Izzuddin Ibn al-Atsir, Al-Kamil fit Tarikh, Juz 1, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2003, h. 24).
BACA JUGA:Tak Ada Ruang untuk Balap Liar, Razia Besar di Islamic Centre Kotaagung 27 Motor Disita
Ini menjadi pelajaran penting bahwa ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan rasa paling hebat.
Akar rasisme Iblis yang paling jelas terekam langsung dalam Al-Qur’an.
Iblis menilai dirinya lebih baik karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah, lalu menjadikannya alasan untuk menolak perintah Allah.
“(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?’ Ia (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS Al-A‘raf [7]:12).
BACA JUGA:Tips Mencari Jodoh Terbaik Dunia Akhirat, Cek Kriteria Pasanganmu Menurut Islam
Polanya familiar, rasisme sering hadir sebagai kesombongan yang mencari pembenaran agar meremehkan orang lain terasa sah.
Karena itu, Islam memutus akar rasisme dengan ukuran kemuliaan yang tidak bergantung pada ras dan suku.
Allah menjadikan keberagaman sebagai sarana saling mengenal, bukan saling merendahkan, sementara kemuliaan ditentukan oleh takwa.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa….” (QS Al-Hujurat [49]:13).
BACA JUGA:Sinopsis Air Mata di Ujung Sajadah 2, Kisah Penuh Air Mata Tentang Ibu, Anak, dan Rahasia Lama
Rasulullah SAW juga menjelaskan inti kesombongan yang sangat relevan dengan masalah rasisme.