Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat gaduh. Jika ada yang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
BACA JUGA:Dalil Hadis Setan Dibelenggu Saat Ramadhan, UAH Ungkap Makna Kiasannya Menurut Ulama
UAH menjelaskan bahwa puasa diibaratkan sebagai perisai yang menahan seseorang dari keburukan.
Oleh karena itu, kendali diri bukan pelengkap, melainkan inti yang memperindah ibadah puasa.
Lebih lanjut, ia menyampaikan kabar gembira bagi orang yang menjaga puasanya dengan benar. Rasulullah SAW bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِBACA JUGA:Dalil Hadis Lailatul Qadar Pasti Jumat Terakhir, Ini Kata UAH dan Hadis Shahihnya
Artinya: “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, UAH menekankan bahwa puasa tidak boleh berdiri sendiri.
Ramadan seharusnya diisi dengan peningkatan amal ibadah lain seperti salat, tilawah Al-Qur’an, dan zikir.
Jika tidak, seseorang dikhawatirkan hanya mendapatkan sisi fisik puasa tanpa meraih ruhnya.
BACA JUGA:Dalil Hadis Ramadan Dibagi Tiga, UAH Sebut Sangat Lemah, Ini Penjelasan dan Artinya
Hal ini sejalan dengan peringatan Nabi SAW:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُArtinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)
Menurut UAH, Ramadan adalah kesempatan terbaik untuk melakukan perubahan.
BACA JUGA:Dalil Hadis Tentang Puasa Ramadan yang Dibatalkan Tanpa Uzur, Benarkah Tak Bisa Diganti?
Bila sebelumnya seseorang mudah marah, terbiasa berkata kasar, atau lalai beribadah, maka Ramadan menjadi titik balik untuk membenahi diri.