Prinsip perubahan itu ditegaskan Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْArtinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
BACA JUGA:Dalil Hadis Zakat Jasad Adalah Puasa, Ini Kesimpulan Ulama Tentang Derajat Riwayatnya
UAH mengingatkan bahwa tujuan utama puasa adalah melahirkan ketakwaan, sebagaimana firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَArtinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
BACA JUGA:Dalil Hadis Tentang Puasa Ramadan Ketika Safar, Ini Penjelasan Sanad dan Catatan Ulama Hadis
“Puasa sejati bukan sekadar pindah waktu makan, tetapi bagaimana kita mengontrol diri dan menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan,” tegasnya.
Dengan demikian, UAH mengajak umat Islam untuk menjalani puasa secara utuh, yaitu menjaga ucapan, merawat kesabaran, serta menghidupkan ibadah lain.
Dengan cara itu, Ramadan diharapkan benar-benar menjadi bulan pembinaan diri yang menghadirkan keberkahan dan pahala yang dijanjikan Allah SWT.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1