Green Banking dalam Ekonomi Islam
Rina El Maza, Dosen Prodi Ekonomi Syariah UIN Jurai Siwo Lampung.-Foto ist-
Namun, pemetaan SDGs harus dilakukan secara hati-hati. Bank tidak cukup menempelkan logo tujuan pembangunan pada laporan tahunan. Harus ada jalur kontribusi, indikator, baseline, dan bukti yang dapat diperiksa.
Dalam konteks Islam, akuntabilitas SDGs perlu dipadukan dengan akuntabilitas syariah, sehingga setiap pembiayaan jelas akadnya, jelas manfaatnya, dan jelas pula dampaknya bagi masyarakat serta lingkungan secara konsisten, transparan, proporsional, dan mudah dipahami oleh para pemangku kepentingan.
Pada akhirnya, green banking dalam ekonomi Islam adalah ujian konsistensi antara nilai dan praktik. Jika bank syariah mengaku membawa misi keadilan dan kemaslahatan, maka keberlanjutan lingkungan harus masuk ke inti strategi bisnis, bukan ditempatkan sebagai program tambahan.
Ke depan, bank syariah perlu membangun budaya hijau, memperkuat data, melatih sumber daya manusia, mengembangkan produk inovatif, dan melaporkan dampak secara terbuka.
Langkah ini memang tidak mudah, tetapi sangat penting. Green banking memberi kesempatan bagi perbankan syariah untuk tampil sebagai lembaga etis, modern, bertanggung jawab, dan relevan dalam menghadapi krisis iklim global tanpa kehilangan jati diri syariah serta orientasi kemaslahatan umat secara nyata.(*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

