Bunda Eva 2 - Iklan Prima

Puluhan Anggota Khilafatul Muslimin Ditetapkan Tersangka, Lima Dari Lampung

Puluhan Anggota Khilafatul Muslimin Ditetapkan Tersangka, Lima Dari Lampung

Pimpinan Khilafatul Muslimin Lampung Abdul Qodir Hasan Baraja saat berada di Mapolresta Bandarlampung, sebelum dibawa ke Polda Metro Jaya, Selasa (7/6). FOTO HUMAS POLDA LAMPUNG--

JAKARTA, RADARLAMPUNG.CO.IDAparat kepolisian menetapkan 23 anggota Khilafatul Muslimin sebagai tersangka. Penangkapan dilakukan pada empat wilayah polda.

Menurut Karopenmas Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan, puluhan anggota Khilafatul Muslimin itu menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut di beberapa polda.  

Di antaranya, enam tersangka yang diamankan di wilayah hukum Polda Jawa Tengah. Kemudian lima orang di wilayah Polda Lampung. Termasuk Pimpinan Khilafatul Muslimin Abdul Qodir Hasan Baraja

Selanjutnya lima orang diamankan dari wilayah hukum Polda Jawa Barat. ”Ada juga di (wilayah hukum) Polda Jawa Timur dan Polda Metro Jaya menetapkan enam tersangka,” kata Brigjen Ahmad Ramadhan, dilansir pmj.com.

BACA JUGA: Perkumpulan Advokat Perempuan Lampung Dukung Penangguhan Penahanan Ibu Penjual Obat Ilegal

Brigjen Ahmad Ramadhan, Khilafatul Muslimin diduga hendak menyebarkan berita bohong serta mengajarkan paham-paham yang bertentangan dengan nilai Pancasila.

Salah satunya peristiwa di wilayah hokum Polda Jawa Tengah. Anggota organisasi tersebut melakukan konvoi dan menyebarkan pamflet berupa maklumat serta nasihat dan imbauan.

Tidak hanya itu. Khilafatul Muslimin juga menggunakan strategi rekrutmen anggota dengan sistem multilevel marketing (MLM). Mereka berkeliling dari rumah ke rumah.

Sebelumnya Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen  R. Ahmad Nurwakhid mengatakan, kelompok Khilafatul Muslimin sebenarnya memiliki cita dan ideologi yang sama dengan HTI yang telah dibubarkan oleh pemerintah, yaitu mendirikan khilafah.

BACA JUGA: Dua Anak SMP di Mesuji Tabrak Bak Mobil, Satu Orang Tewas

“Bedanya, HTI merupakan gerakan trans-nasional dan sedang memperjuangkan sistem khilafah di berbagai negara. Sementara Khilafatul Muslimin mengklaim sudah mendirikan khilafah dengan adanya khalifah yang terpilih,” kata Nurwakhid di Bogor, Selasa (31/5). 

Nurwakhid menjelaskan, genealogi Khilafatul Muslimin tidak bisa dilepaskan dari NII. Karena sebagian besar tokoh kunci dalam gerakan ini adalah mantan NII.

Pendiri dan pemimpinnya adalah Abdul Qadir Hasan Baraja mantan anggota NII, sekaligus salah satu pendiri Pondok Pesantren Ngruki dan ikut ambil bagian dalam Majelis Mujahidin Indonesia tahun 2000, walaupun memilih tidak aktif. 

Nurwakhid menambahkan, ada beberapa parameter yang bisa dipakai dalam melihat Khilafatul Muslimin. Pertama, aspek ideologi sangat berbahaya dengan memiliki cita ideologi khilafah di Indonesia sebagaimana HTI. 

BACA JUGA: Pemkot Bandar Lampung Bongkar Plang Nama Kantor Khilafatul Muslimin

“Walaupun dalam pengakuan mereka tidak bertentangan dengan Pancasila, namun ideologi mereka adalah mengkafirkan sistem yang tidak sesuai dengan pandangannya,” jelasnya.

Kedua, lanjut Nurwakhid, secara historis, pendiri gerakan ini sangat dekat dengan kelompok radikal seperti NII, MMI dan memiliki rekam jejak dalam kasus terorisme.

Baraja telah mengalami dua kali penahanan, pertama pada Januari 1979 berhubungan dengan Teror Warman, ditahan selama 3 tahun.

Kemudian ditangkap dan ditahan kembali selama 13 tahun, berhubungan dengan kasus bom di Jawa Timur dan Borobudur pada awal tahun 1985.

BACA JUGA: NII Crisis Center: Pola Perekrutan Khilafatul Muslimin Mirip MLM

Ketiga, dampak ideologis, gerakan ini yang memiliki cita-cita ideologi perubahan sistem sangat rentan bermetamorfosa dalam gerakan teror. 

“Lihatlah kasus penangkapan NAS tersangka teroris di Bekasi yang ditemukan di kontrakannya kardus berisi Khilafatul Muslimin dan logo bordir Khilafatul Muslimin,” ungkapnya. 

Selain itu, lanjut Nurwakhid, gerakan Khilafatul Muslimin mudah berafiliasi dengan jaringan kelompok teror seperti ISIS.

Bahkan pada masa kejayaan ISIS pada tahun 2015, Rohan Gunaratna Peneliti Terorisme dari Singapura menggolongkan Khilafatul Muslimin telah berbaiat kepada ISIS. 

 

Sumber: