Sikapi Pilrek Unila, Prof Yulianto: Rektor Harus Institutional Builder

Sikapi Pilrek Unila, Prof Yulianto: Rektor Harus Institutional Builder

Prof Yulianto. -Foto Dok.Unila-

RADARLAMPUNG.CO.ID- Pemilihan Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 mulai menyita perhatian civitas akademika. 

Diskusi mengenai kriteria ideal sosok yang layak memimpin kampus hijau tersebut kini hangat diperbincangkan.

Mantan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni Unila periode 2020–2023, Prof. Dr. Yulianto, M.S., turut memberikan pandangan dinamika ini. 

Menurutnya, pemikiran civitas akademika perlu digeser dari sekadar mencari akademisi unggul (academic star) menuju sosok pembangun institusi (institutional builder).

BACA JUGA:Cegah Literatur Fiktif AI, Unila Tekankan Integritas Akademik bagi Dosen Muda

Prof Yulianto tak menampik bahwa gelar profesor dan rekam jejak publikasi internasional bereputasi merupakan modal akademik yang penting untuk memperkuat kredibilitas calon pimpinan. 

Namun, ia menekankan agar proses pemilihan tidak terjebak pada credentialism yaitu kecenderungan menilai calon semata-mata dari gelar formal, jabatan akademik, atau daftar prestasi personal.

"Persoalannya bukan apakah seorang rektor harus memiliki prestasi akademik, melainkan bagaimana prestasi akademik tersebut diterjemahkan menjadi kapasitas institusional. Academic capital akan memiliki nilai strategis apabila mampu dikonversi menjadi institutional capacity," terangnya.

BACA JUGA:Himatemia FT Unila Gelar EXCESS 2026, Dorong Generasi Muda Hadapi Tantangan

Universitas Organisasi Kompleks

Lebih lanjut, Prof. Yulianto menjelaskan bahwa memimpin universitas jauh melebihi tugas kepemimpinan riset atau pencapaian gelar individual. 

Perguruan tinggi merupakan organisasi kompleks yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, pemerintah, dunia usaha/industri, alumni, hingga mitra internasional

Oleh karena itu, seorang rektor dituntut memiliki kecakapan manajerial yang komprehensif, meliputi pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, tata kelola (governance), pelayanan, hingga mitigasi konflik kepentingan.

BACA JUGA:Cetak 102 Dokter Baru, FK Unila Perkuat Ekosistem Kesehatan Lewat RSPTN dan IRC

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait