100 Hari Pertama memimpin Itera, Prof Elfahmi Kebut Transformasi Akademik dan Duplikasi Ekosistem Riset ITB
100 Hari Pertama Memimpin Itera, Prof Elfahmi Kebut Transformasi Akademik, Infrastruktur dan Duplikasi Ekosistem Riset ITB-Foto Anggi Rhaisa/Radar Lampung-
RADARLAMPUNG.CO.ID- Estafet kepemimpinan di Institut Teknologi Sumatera (Itera) resmi berganti.
Usai dilantik, Rektor Itera periode 2026–2030, Prof. Dr. Apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., langsung mematok target tinggi dalam agenda kerja 100 hari pertamanya.
Pria sebelumnya menjabat sebagai Direktur Riset dan Inovasi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berkomitmen melakukan akselerasi besar-besaran, mulai dari percepatan pembangunan infrastruktur, pembenahan kurikulum, hingga penguatan ekosistem riset dan hilirisasi paten.
Komitmen tersebut ditegaskan Prof. Elfahmi dalam acara pisah sambut rektor dari Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha di Kampus Itera, Lampung Selatan, Rabu 1 Juli 2026.
BACA JUGA:ITERA Buka Jalur Afirmasi Putra Daerah, Sasar Wilayah dengan Jumlah Mahasiswa Masih Rendah
"Kita manfaatkan teknologi untuk membawa Itera semakin maju. Dari Sumatera untuk Indonesia, go international. Kolaborasi akan terus kita jaga. Jika ada hal-hal yang belum baik, sampaikan kepada kami agar segera diperbaiki," ujar Prof. Elfahmi di hadapan civitas akademika.
Pacu Hilirisasi, Duplikasi Ekosistem Riset ITB
Di bawah kepemimpinan Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha (periode 2022–2026), Itera mencatatkan prestasi gemilang di kancah nasional dengan meraih penghargaan dari Kementerian Hukum RI sebagai peringkat 4 nasional pendaftar paten terbanyak di Indonesia.
Merespons modal besar tersebut, Prof. Elfahmi menegaskan bahwa fokus utama ke depan adalah hilirisasi nyata agar ribuan paten dosen tidak hanya berhenti di laboratorium.
Berbekal pengalamannya di ITB, ia siap mereplikasi (copy-paste) ekosistem riset yang sukses menjembatani inovasi kampus menjadi startup mandiri dan komersial, seperti situs markhep.com.
"Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak SDM unggul, tetapi juga wajib menghasilkan riset yang memberikan manfaat nyata secara langsung bagi masyarakat," tuturnya.
BACA JUGA:Itera Tetapkan Tiga Besar Calon Rektor 2026–2030, Ini Daftar Nama juga Hasil Perolehan Suaranya
Sebagai pakar di bidang farmasi, ia juga menaruh perhatian serius terhadap fakta bahwa 95 persen bahan baku farmasi di Indonesia masih mengandalkan impor. Melalui Itera, ia berkomitmen mendorong inovasi dalam negeri untuk mensubstitusi produk-produk impor tersebut.
Fokus Komoditas Lokal Lampung: Kopi dan Singkong Zero Waste
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


