Akademisi Unila Latih 25 Guru Bahasa di Pesawaran

Akademisi Unila Latih 25 Guru Bahasa di Pesawaran

Akademisi Unila Latih 25 Guru Bahasa di Pesawaran. -Foto Istimewa-

RADARLAMPUNG.CO.ID— Di era Kurikulum Merdeka, transformasi pola mengajar guru Bahasa Indonesia menjadi salah satu kunci dalam membentuk generasi bernalar kritis.

Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak lagi sekadar berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, tapi juga perlu mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan mempertanyakan informasi.

Literasi kritis menjadi penting karena peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk menilai kebenaran informasi, membedakan fakta dan opini, mengevaluasi argumen, serta mengidentifikasi bias dan kredibilitas sumber.

Urgensi tersebut mendorong akademisi Universitas Lampung (Unila) yang diketuai Dr. Eka Sofia Agustina, S.Pd., M.Pd. dengan anggota tim Prof. Dr. Muhammad Fuad, M.Hum.; Prof. Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M.Pd.; Dr. Siti Samhati, M.Pd.; dan Dr. Mulyanto Widodo, M.Pd. untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan memberikan pelatihan bagi guru Bahasa Indonesia yang tergabung dalam MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Pesawaran.  

Berlangsung pada 6 Agustus 2026 juga dihadiri  Anton Sujarwo dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesawaran, kegiatannya dipusatkan di SMPN 27 Pesawaran diikuti 25 peserta MGMP.

BACA JUGA:BEM Unila Siapkan Festival Budaya dan Pengabdian Masyarakat di Katibung, Bupati Egi Siap Berkolaborasi

Masing-masing di antaranya guru bahasa Indonesia dari SMPN Satap 5 Pesawaran, SMPN 13 Pesawaran, SMP 14 Pesawaran, SMPN Satap 1 Pesawaran, SMPN 19 Pesawaran, SMPN 26 Pesawaran, SMPN 1 Pesawaran, SMPN 4 Pesawaran, SMPN 8 Pesawaran, SMPN 17 Pesawaran, SMPN 3 Pesawaran, SMPN Satap 10 Pesawaran, SMPN 15 Pesawaran, SMPN 18 Pesawaran, SMPN 5 Pesawaran, SMPN 23 Pesawaran, SMPN 27 Pesawaran, SMPN 29 Pesawaran, dan SMPN 2 Pesawaran. 

Ada pun materi yang diberikan menempatkan membaca kritis sebagai proses berpikir aktif dan mendalam.

Dimana, peserta diberi penjelasan mengenai Strategi Pembelajaran Berbasis Literasi Kritis dengan materi yang telah disiapkan, kemudian diarahkan untuk memahami bacaan secara menyeluruh, mencatat gagasan utama dan bukti pendukung, membangun pertanyaan kritis, menganalisis pola berpikir penulis, menilai validitas argumen dan kredibilitas sumber, serta menghubungkan isi bacaan dengan konteks atau sumber lain.

BACA JUGA:Tingkatkan Kualitas Ikan Teri, Tim Pengabdian Teknokrat Hadirkan Smart Solar Fish Dryer di Pulau Pasaran

Kemampuan tersebut kemudian diperkuat melalui strategi Before–During–After Reading (BDA), SQ3R, Reciprocal Teaching, QAR, Close Reading, PIR, dan Anotasi Teks.

Hasil pemetaan peserta, terang Eka Sofia Agustina, memperlihatkan bahwa literasi kritis tidak hanya berkaitan dengan pemahaman terhadap isi bacaan.

Indikator yang menjadi perhatian yaitu mencakup kemampuan menjelaskan konsep dan penerapan literasi kritis dalam pembelajaran bahasa Indonesia, membedakan membaca pemahaman dengan membaca kritis, peran literasi kritis dalam mencapai profil pelajar Pancasila, hubungan literasi kritis dengan capaian pembelajaran bahasa Indonesia, asesmen untuk mengukur kompetensi literasi kritis siswa, serta menjelaskan manfaat literasi kritis bagi siswa," jelasnya.

BACA JUGA:Sinergi Unila Dan Kodam XXI/Radin Inten, Bahas SDM, Riset dan Pengabdian

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait