SAYA nonton debat calon presiden kemarin malam. Tetapi apa yang bisa ditulis? Tidak ada debat filsafat ketika membahas ideologi Pancasila. Sama-sama dangkalnya. Pak Jokowi bahkan sempat mempersempit makna diplomasi hanya seperti penengah. Pak Prabowo juga sempat kepeleset. Untuk apa beliau mengucapkan ’’Saya lebih TNI dari TNI”. Padahal sebelum itu. Pak Jokowi sudah mencap ’’Sepertinya pak Prabowo ini kurang percaya pada TNI kita”. Yakni setelah Pak Prabowo mengungkapkan lemahnya bidang pertahanan kita. Tetapi, Pak Prabowo kali ini memang kelihatan lebih menarik. Beliau sendiri mungkin juga merasa menang. Sampai-sampai sempat melucu dengan gerak tubuhnya. Saat menuju tempat duduknya. Seperti ingin bilang ’’mampus lu”. Tetapi, Pak Jokowi tepat sekali ketika menjawab pertanyaan: apakah modal Indonesia untuk diplomasi internasional? ’’Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia,” jawab pak Jokowi. Itu benar. Sayangnya, beliau tidak menyebut beberapa keunggulan lainnya: Demokrasi kita. Mungkin karena kita memang belum bisa membanggakan demokrasi kita. Yang aparat masih memihak. Tetapi kan masih ada keunggulan lain: jumlah kelas menengah kita, demografi kita, dan posisi kita sebagai negara terbesar di ASEAN. Dalam hal ini, Pak Prabowo memilih asumsi kita ini belum punya keunggulan apa-apa. Kita ini masih lemah. Jadi hinaan di luar negeri. Kita harus memperkuat diri dulu. Baru kelak bisa bicara di dunia diplomasi internasional. Saya jadi ingat Pak Harto. Masa lima tahun pertama beliau jadi presiden. Selama lima tahun penuh itu beliau tidak mau ke luar negeri. Tidak tergoda oleh panggung internasional. Beliau memilih bekerja keras untuk memperkuat negara. Terutama perekonomiannya. Yang nyaris bangkrut saat itu. Tetapi, Pak Harto pro modal asing. Di tahun-tahun pertama kepresidenannya itu, Pak Harto sudah membidani lahirnya UU Penanaman Modal Asing. Pak Prabowo justru mempersoalkan masuknya asing di bidang pelabuhan dan bandara. Beliau memang menegaskan tidak anti modal asing. Tetapi tidak setuju kalau modal asing masuk sampai bidang strategis. Seperti pelabuhan dan bandara. Bisa jadi hal itu lantaran begitu dalam doktrin militer yang jadi latar belakang beliau. ’’Tentara itu selalu dilatih merebut bandara dan pelabuhan,” ujarnya. Kok ini pelabuhan dan bandara diserahkan ke asing. Di bidang ini, Pak Jokowi memang kelihatan lebih modern dan pro modal asing. Untuk mempercepat pembangunan, kata beliau. ’’Yang tidak boleh itu kalau masuk ke pelabuhannya TNI-AL atau bandaranya TNI-AU. Seperti bandara TNI-AU di Madiun itu,” kata Pak Jokowi. Dalam debat kali ini, Pak Prabowo lebih berani mengoreksi pak Jokowi. Mungkin belajar dari debat yang lalu. Yang Pak Prabowo seperti kalah. Terutama dalam penguasaan angka-angka. Pak Jokowi, saat itu, tampak sangat pede. Meyakinkan. Telak. Ketika menunjukkan prestasi dengan angka-angka. Saking ’’so pasti”-nya, sampai Pak Prabowo seperti ikut terperangah. Setelah debat, medsos seperti banjir koreksi. Terhadap angka-angka yang diucapkan pak Jokowi itu. Ibaratnya, saat itu, Pak Jokowi menang di debat, tetapi kalah di medsos setelah itu. Pak Prabowo kelihatannya tidak mau lagi kalah di debat kali ini. Ketika Pak Jokowi mengemukakan angka-angka, Pak Prabowo tidak terperangah lagi. Bahkan Pak Prabowo berani mengoreksi langsung. Cukup keras. ’’Pak Jokowi harus hati-hati dengan laporan ABS,” ujar Pak Prabowo tanpa menyebutkan ABS itu artinya Asal Bapak Senang. Pak Prabowo termasuk berani mengingatkan ucapan Pak Jokowi soal belum akan adanya perang. ’’Waktu saya masih letnan dulu, masih muda, jenderal-jenderal saya selalu mengatakan tidak akan ada perang dalam 20 tahun ke depan. Eh, tahun depannya saya dikirim untuk perang di Timtim,” katanya. Lalu, siapa yang menang dalam hal pakaian? Dua-duanya berpakaian bagus. Sempurna. Dengan style-nya masing-masing. Tidak ada yang cacat sedikit pun di pakaian jas Pak Prabowo. Hanya dasi bergaris miring mencolok seperti itu rasanya ’’kurang presiden”. Meski berhasil mengurangi kesan sikap keras di ucapan dan wajahnya. Kalau saya, tetap akan pilih dasi polos. Warna dasi tidak harus merah. Pak Prabowo sudah kelihatan berwibawa sehingga warna dasi bisa dipilih biru muda. Baju putih lengan panjang Pak Jokowi juga bagus sekali. Tetapi baju putih itu tidak lagi menampilkan citra sederhana yang dulu. Baju itu kelihatan sangat mahal. Bahannya maupun potongannya. Saya senang di penutup debat ini. Kalimat-kalimat saling memuji diucapkan. Bahasa tubuh persahabatan ditonjolkan. Pak Jokowi kelihatan lebih dulu beranjak ke arah Pak Prabowo. Untuk menyalami. Justru sebelum moderator mempersilakan untuk bersalaman. Tetapi, Pak Prabowo juga segera tanggap. Cepat-cepat melangkah ke arah kedatangan Pak Jokowi. Keduanya seperti sudah siap menang dan kalah. Sudah siap? (dis)
Bahasa Tubuh
Senin 01-04-2019,08:02 WIB
Editor : Widisandika
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 07-07-2026,19:09 WIB
SUV Premium BYD Denza B8 Siap Meluncur di Indonesia, Tawarkan Performa Off-Road dan Kemewahan Kabin VIP
Selasa 07-07-2026,18:33 WIB
Pasar Saham Konsolidasi, OJK Pastikan Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga
Selasa 07-07-2026,18:01 WIB
Dewan Pendidikan Lampung Bakal Evaluasi Regulasi SPMB, Cari Win-Win Solution untuk Sekolah Swasta
Selasa 07-07-2026,21:24 WIB
Universitas Teknokrat Indonesia Bekali Mahasiswa Siap Bersaing di Karier Global
Rabu 08-07-2026,07:58 WIB
Terakhir Hari Ini, Promo Harga Khusus Member Indomaret Poinku 8 Juli 2026, Cek Daftar Produknya
Terkini
Rabu 08-07-2026,17:37 WIB
Update Promo Banded Pick of the Week di Chandra Superstore, Beli 1 Gratis 1 hingga Beli 3 Gratis 1
Rabu 08-07-2026,17:31 WIB
Ini 5 Sekolah Pemenang Festival Musikalisasi Puisi BBPL 2026
Rabu 08-07-2026,16:49 WIB
Antisipasi Kekeringan, Dinas Pertanian Mesuji Petakan Wilayah Rawan dan Optimalkan Irigasi
Rabu 08-07-2026,16:38 WIB
Dongkrak Produktivitas Ikan Air Tawar, Pemkab Tulang Bawang Bagikan Benih Ikan kepada Delapan Pokdakan
Rabu 08-07-2026,16:19 WIB