IHSG Terperosok ke 7.922, Ini Signal Saham yang Muncul Saat Pasar Masih Bergetar

Selasa 03-02-2026,08:07 WIB
Reporter : M.Nabil Mamnun*
Editor : Dian Saptari

“Pasar masih wait and see terhadap agenda BEI dan MSCI terkait reformasi transparansi pasar modal,” ujar Herditya.

Meski demikian, ia menyebut masih ada peluang penguatan terbatas dengan support 7.828 dan resistance 8.031.

Saham pilihan versi MNC Sekuritas untuk perdagangan hari ini adalah AADI, INCO, JSMR, dan SUPA.

BACA JUGA:3 Saham Ini Berpeluang Cuan Saat IHSG Masih Tertekan dan Risiko Global Belum Mereda

Dari sisi faktor pendorong pelemahan, Equity Research Analyst, Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai sentimen negatif datang dari kombinasi koreksi harga komoditas.

Tidak hanya itu, sentimen lainnya datang dari tekanan pada saham berbasis emas, serta wait and see investor terhadap agenda otoritas pasar modal.

“Pasar masih cenderung menunggu perkembangan pertemuan BEI dengan MSCI terkait ketentuan transparansi data free float. Di sisi lain, IHSG juga dibebani tekanan dari emiten konglomerasi dan emiten gold related seiring koreksi harga emas dunia,” ujar Alrich.

Alrich juga menyoroti pelemahan IHSG yang terjadi di tengah depresiasi rupiah ke Rp16.798 per dolar AS di pasar spot.

BACA JUGA:BRI Konsisten Ciptakan Nilai bagi Negara dan Pemegang Saham, Bagikan Dividen Interim Tahun Buku 2025

Meski demikian, ia mencatat beberapa indikator ekonomi domestik menunjukkan sinyal yang relatif positif.

Sinyal tersebut seperti kenaikan PMI Manufaktur ke 52,6 pada Januari 2026 dari 51,2 bulan sebelumnya, surplus neraca perdagangan yang naik menjadi US$2,52 miliar pada Desember 2025.

Terakhir, berasal dari sinyal inflasi tahunan yang meningkat menjadi 3,55% pada Januari 2026 meski secara bulanan masih deflasi 0,15%.

Dari eksternal, tekanan disebut datang ketika mayoritas bursa Asia ditutup melemah.

BACA JUGA:Lebih Dari Dua Dekade Melantai di Bursa Efek Indonesia, Harga Saham BBRI Telah Naik 48 Kali

Tekanan tersebut dipengaruhi oleh anjloknya indeks Kospi Korea Selatan yang sempat memicu trading halt, kekhawatiran bubble sektor AI, serta aksi jual lanjutan pada emas dan perak seiring penguatan dolar AS.

Secara teknikal, Alrich menilai tekanan jual masih dominan.

Kategori :