141 Tahun Sebelum Bom di Astana Anyar, Ini Sosok Pertama yang Ledakkan Bom Bunuh Diri

141 Tahun Sebelum Bom di Astana Anyar, Ini Sosok Pertama yang Ledakkan Bom Bunuh Diri

Ignaty Grinevitsky, Pelaku Bom Bunuh Diri Pertama di Dunia. (Foto.Dok/People Pill)--

RADARLAMPUNG.CO.ID –Baru-baru ini sebuah peristiwa nahas telah terjadi di Kota Bandung, Jawa Barat pada Rabu Kemarin, 7 Desember 2022 sekitar pukul 08.20 pagi WIB.

Masyarakat Indonesia tengah digegerkan oleh peristiwa bom bunuh diri yang meledak saat para petugas kepolisian setempat sedang melakukan apel pagi.

Akibat teror tersebut, setidaknya ada 10 orang yang menjadi korban serta dua diantaranya merupakan terduga pelaku dan seorang anggota polisi yang harus meregang nyawa.

Dilansir Radarlampung.co.id dari laman informasi Hitory of Yesterday pada Kamis, 8 Desember 2022. Bom bunuh diri pertama ternyata sudah pernah terjadi sejak 141 tahun yang lalu.

BACA JUGA:Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar, Kapolres Pringsewu Imbau Masyarakat Tidak Sebarkan Foto Kondisi Pelaku

Pelaku bom bunuh diri pertama adalah seorang pejuang kemerdekaan sekaligus revolusioner utama dari Rusia dan merupakan anggota People’s Will.

Sang pejuang kemerdekaan sekaligus revolusioner utama dari Rusia yang merupakan anggota People’s Will itu diketahui bernama Ignaty Ginevitsky.

Ignaty Ginevitsky merupakan orang pertama yang meledakkan bom bunuh diri dalam sejarah negara Rusia, di mana dirinya menargetkan Tsar Alexander II dari Rusia.

Pada Februari 1881 silam, Ignaty Grinevitsky bergabung dengan unit pelempar bom yang dibentuk dengan tujuan membunuh Tsar Alexander II.

BACA JUGA:YouTube Resmi Hadirkan Shorts di Smart TV, Berikan Pengalaman Akses Kontrol Pakai Remot

Di malam sebelum peristiwa pengeboman terjadi, Ignaty bahkan sudah menuliskan surat wasiat alias surat terakhir di mana pria yang pada saat itu berusia 25 tahun menyebutkan bahwa Alexander II harus mati dalam pengeboman tersebut.

Tepat pada 13 Maret 1881, target atau Tsar Alexander II disebutkan telah melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan kereta berlapis baja yang terbuat dari bahan anti-peluru.

Seorang Cossack bersenjata duduk di sebelah pengemudi kereta yang ditumpangi oleh Tsar Alexander II, sementara 6 Cossack lainnya mengikuti kereta dengan menunggang kuda di belakang sang Raja.

Saat kereta yang ditumpangi sang Raha mendekati sudut jalan yang sudah dekat dengan Kanal Catherine, Sophia Perovskaya memberikan sinyal kepada Nikolai Rysakov dan Timofei Mikhailov untuk melemparkan bom berukuran 2,3 kg yang telah mereka rakit.

Sumber: