'Kursi Dingin' Dirut Bank Lampung, Ada Apa Dengan Presley Mundur?

Kamis 01-08-2024,16:28 WIB
Reporter : Ardiansyah
Editor : Ardiansyah

Kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) net Bank Lampung sebesar 1,71 persen. 

Sedang NPL gross sebesar 2,32 persen. Artinya masih jauh di bawah batas maksimal regulator, yakni 5 persen.

Kalaupun mau disorot adalah kinerja Presley secara keseluruhan. Terutama dalam upaya mendapatkan laba bersih. 

Menurut saya di bawah kepempimpinan Presley, Bank Lampung mengalami tren penurunan.  

Pada semester 1 tahun 2024 meski kredit tumbuh 9,66 persen, namun laba bersih dipastikan anjlok. 

Lihat saja. Sampai Semester I,  Laba bersih baru mencapai Rp 71,38 miliar. Padahal laba bersih tahun 2023 sebesar Rp 175,27 miliar.

Jadi rasanya sulit bagi Bank Lampung untuk bisa melampaui pencapaian laba bersih tahun 2023. 

Justru inilah  menariknya. Sebab periodesasi Presley sebagai Dirut akan berakhir 18 September nanti. Artinya hanya 1 bulan lagi.

Saya pun akhirnya teringat dengan pernyataan teman yang juga seorang bankir.  

Bahwa di kalangan bankir bank BPD (bank pembangunan (plat merah)  daerah), kursi dirut dikenal dengan sebutan "Kursi Panas".

Saya juga tidak tahu seberapa panasnya kursi dirut itu. Hanya saja kata panas itu  lebih dimaksudkan pada persaingan yang begitu ketat untuk memperebutkan kursi itu. 

Saya agak kesulitan juga untuk menjelaskan makna panas itu. Tapi intinya begitulah.

Kursi yang jika diduduki akan terasa panas. Saking panasnya sang dirut tak kuasa menahannya. Dan kemudian melepaskan kursi itu. 

Tapi saya melihat sebaliknya. Jabatan Dirut itu kursi dingin. Kursi yang membuat nyaman dan berusaha untuk mempertahankannya.

Bagaimana tidak dingin. Meskipun dengan kinerja dan hasil yang kurang baik, masih tetap bertahan dan dipertahankan di jabatan itu.

Mari kita lihat datanya. Presley mulai menjabat Dirut Bank Lampung sejak 18 September 2020. 

Kategori :