Harapan itu diperkuat dengan sertifikasi resmi dari BNSP, pengakuan negara atas keterampilan yang mereka peroleh. Sertifikat itu bukan hanya selembar kertas, melainkan tiket untuk kembali diterima oleh masyarakat.
Nama Roti Raja Bakery mulai dikenal luas pada akhir 2025. Media sosial ramai membicarakannya—roti serba Rp4.000 dengan lebih dari 15 varian rasa.
Dari roti O hingga cokelat keju, dari srikaya pandan hingga pisang cokelat. Murah,e enak, dan dibuat dengan standar kebersihan ketat serta sertifikat halal.
BACA JUGA:Empat Warga Binaan Lapas Metro Terima Remisi Khusus Natal
Namun di balik harga terjangkau itu, ada perjuangan. Setiap roti diproduksi dengan keterbatasan alat, tenaga, dan waktu.
Pesanan yang terus meningkat membuat warga binaan rela bekerja hingga malam hari.
Bukan karena terpaksa, melainkan karena dari sinilah mereka bisa mengirim sedikit harapan kepada keluarga di rumah.
“Dari hasil ini, kami bisa bantu keluarga. Itu yang bikin kami semangat,” kata Medi.
Sebanyak 50 persen dari pendapatan penjualan dibagikan kembali kepada warga binaan sebagai premi. Bagi mereka, angka itu bukan sekadar nominal, tetapi simbol bahwa jerih payah mereka dihargai.
Salah satu sosok yang menjadi denyut utama dapur Roti Raja Bakery adalah Mulyadi. Warga binaan yang kini dipercaya sebagai kepala dapur produksi ini mengaku tak pernah membayangkan dirinya akan berada di posisi tersebut.
“Awalnya saya cuma ikut pembinaan. Dua tahun kemudian baru ikut sertifikasi BNSP. Sekarang saya masih di sini, tapi saya sudah punya mimpi,” ujarnya.
Mimpinya sederhana: suatu hari memiliki toko roti sendiri. Dan ketika hari itu tiba, ia ingin orang tahu bahwa semuanya berawal dari sebuah dapur kecil di dalam lapas—tempat ia belajar bertanggung jawab, bekerja jujur, dan percaya pada diri sendiri.
Meski begitu, jalan tak selalu mudah. Stigma masyarakat masih menjadi tantangan. Produk warga binaan sering diragukan kebersihannya, kualitasnya, bahkan kelayakannya.
Untuk mematahkan stigma itu, Medi tak ragu membawa produk Roti Raja Bakery ke kampus, ke instansi, ke ruang-ruang publik.