BACA JUGA:Bisnis Ganja 14 Kilogram dari Balik Lapas, Napi Seumur Hidup Ini Akhirnya Divonis Mati
"Kemarin saya diundang di Universitas Malahayati, saya bawa produk warga binaan untuk dicicipi, dari situ banyak yang mengerti kalau produk kami boleh murah tapi kualitasnya bisa bersaing dengan pasar," jelas Medi.
Kini, dari 16 kegiatan kerja aktif di Lapas Kelas I Rajabasa, Roti Raja Bakery menjadi unit dengan kontribusi pendapatan tertinggi.
Produksi melonjak hingga 3.000 roti per hari, dengan sistem made by order. Bahan baku disuplai dari pemasok lokal, roda ekonomi pun ikut berputar.
BACA JUGA:Roti MBG di Pasar Liwa Ditemukan Berjamur, Satgas Jatuhkan Sanksi
Namun lebih dari angka dan statistik, Roti Raja Bakery adalah tentang kesempatan kedua. Tentang manusia yang diberi ruang untuk berubah. Tentang roti yang bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan hati.
Peralatan untuk memproduksi roti di Raja Bakery, Program Giatja Lapas Kelas I Bandar Lampung-Foto Mutia Nursabitha/Magang Kemnaker RI Batch 1-
Di balik jeruji besi itu, denyut kehidupan pun terlihat. Dan aromanya, perlahan, mulai tercium hingga ke luar tembok lapas—mengetuk nurani siapa pun yang mau memberi kesempatan.
Melalui program Giatja ini, Lapas Kelas I Bandar Lampung berharap dapat terus menciptakan lingkungan pembinaan yang suportif, produktif, dan berkelanjutan.
BACA JUGA:Presiden Prabowo Soroti Penguatan Sinergi Ekonomi pada PTBI 2025, Lampung Tampilkan Kinerja Solid
Instansi juga mengajak masyarakat untuk memberi ruang dan dukungan agar produk hasil warga binaan semakin dikenal, diterima, dan memberi manfaat nyata bagi perekonomian Lampung.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1