RSUDAM Lampung Lakukan Operasi Bedah Jantung Perdana

RSUDAM Lampung Lakukan Operasi Bedah Jantung Perdana

RSUDAM Bandar Lampung melakukan operasi bedah jantung perdana, Jumat 18 November 2022. Direktur RSUDAM dr. Lukman Pura mengatakan, pihaknya melakukan tindakan operasi Coronary Artery Bypass Graft (CABG). FOTO MELIDA ROHLITA/RADARLAMPUNG.CO.ID --

BACA JUGA: 5 Saksi Kembali Dipanggil KPK Terkait Unila

Dr. Lukman mengungkapkan, pasien pertama yang menjalani operasi jantung terbuka adalah seorang pria berusia 43 tahun asal Bandar Lampung yang menerima pemasangan ring di jantungnya.

"Terdeteksi mengalami gangguan kardiovaskular dan sudah dilakukan serangkaian pemeriksaan. Memenuhi persyaratan untuk dilakukan tindakan yang akan kita lakukan," tegasnya.

Sementara Ketua Tim Pengampu Layanan Kardiovaskuler Kemenkes Dr. dr. Hananto Andriantoro menyatakan, program pelayanan operasi bedah jantung terbuka ini untuk mempercepat akses pasien-pasien yang terkena serangan jantung agar mendapatkan pelayanan dan sebagai upaya menurunkan angka kematian disebabkan serangan jantung.

"Rumah Sakit Abdul Moeloek ini menjadi rumah sakit ke-17 dan provinsi ke-17 di Indonesia yang bisa melakukan pembedahan jantung terbuka,” kata Dr. dr. Hananto Andriantoro.

BACA JUGA: Canggih, RSUDAM Perkenalkan Pelayanan Uro-Nefrologi

Dr. dr. Hananto Andriantoro mengungkapkan, operasi tersebut melibatkan jajaran Kementerian Kesehatan dan rumah sakit. Prosesnya sempat terlambat tiga tahun karena masalah pandemic Covid-19.

Terkait pembedahan dengan pasien pertama yang menjalani operasi bedah jantung terbuka, pihaknya menurunkan tujuh profesi (dokter) dari RS Harapan Kita. Dibantu tim dari RSUDAM. 

"Tujuh profesi dikerahkan untuk bekerja secara tandem dari RS Harapan Kita,” ujarnya. 

Ditargetkan operasi 120 pasien tahun depan. RSUDAM dianggap sudah bisa mandiri melakukan operasi tingkat 1 dan 2. 

BACA JUGA: Usut Tuntas Mafia Tanah, Harus Ada Tersangka Baru!

”Tim ini kita anggap kompak dan solid. Jika telah melakukan bedah jantung koroner 120 per tahun, maka membuktikan RSUDAM sudah bisa," jelasnya.

Untuk biaya, dr. Hananto menyebutkan bahwa BPJS Kesehatan tidak mengcover pengobatan. Namun tetap dibiayai oleh Kementrian Kesehatan.

"Mengenai pembiayaan, BPJS Kesehatan belum memberikan bantuan. Pada program pengampuan ini dibantu oleh pemerintah, yakni Kemenkes. Baik biaya perjalanan sampai rumah sakit dan biaya habis pakai. Ini semua ditanggung. Ini sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah pemegang program pengampu kepada masyarakat," urainya.

Dilanjutkan, operasi dimulai setelah pukul 1300 WIB. Di mana, fase penyembuhan pada setiap pasien akan berbeda-beda. Hal ini tergantung kondisi yang bersangkutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: