Dana Penelitian Capai Rp 43 M, Unila Gelar FGD Peningkatan Kualitas Penelitian

Dana Penelitian Capai Rp 43 M, Unila Gelar FGD Peningkatan Kualitas Penelitian

Universitas Lampung (Unila) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Peningkatan Kualitas Proses Penelitian dan Percepatan Hilirisasi Hasil Penelitian.--

BACA JUGA:Apa Hukum Makan dan Minum Setelah Berjunub? Begini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

"Kualitas publikasi juga sangat penting. Perlu kolaborasi dan kemitraan dalam penelitian. Juga dampak sosial dan pemanfaatannya. Mengukur sejauh mana hasil penelitian bisa berkontribusi terhadap masyarakat atau industri," katanya.

Ir. Warsono, M.S., Ph.D. menyatakan harus ada strategi hilirisasi riset dengan memberikan manfaat tambahan yang bisa diterima oleh masyarakat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi (PT) atau lembaga penelitian.

"Hasil penelitian tidak berhenti pada karya Ilmiah (publikasi) yang hanya 4 bermanfaat dan bisa dinikmati oleh kalangan terbatas. Hilirisasi diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil penelitian. Selanjutnya juga akan menambah jumlah lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," paparnya.

Direktur Externas Affairs PT GGP Welly Soegiono yang ikut serta dalam FGD menyatakan riset harus berdasarkan pasar.

BACA JUGA:Bocoran Spesifikasi Samsung Galaxy S24 Ultra, Mulai Dari Layar Amoled 120Hz, RAM 12GB serta Snapdragon 8 Gen 3

"Industri juga melakukan riset karena pasar. Harus ada output dari penelitian. Jadi dalam penelitian harus ada kolaborasi. Jika Indonesia mau maju, jangan membuat apa yang orang Tiongkok bisa. Buat apa yang tidak bisa orang Tiongkok bisa," katanya.

Sementara Ir. Anshori Djausal, M.T. menyatakan hilirisasi itu bisnis atau komersial.

"Mampu meningkatkan produk inovasi dan pasar. Meningkatkan nilai tambah dan memunculkan produk. Jadi hasil penelitian harus bisa dinikmati masyarakat juga," katanya mewakili tokoh masyarakat.

Ardiansyah, S H. selaku perwakilan pers mengkritik banyaknya profesor tidak bisa mengatasi persoalan-persoalan petani seperti di Lampung Barat.

BACA JUGA:26 Kampus Indonesia Terbaik Versi QS World University Rankings 2024

"Hilirisasi hasil penelitian ini saya nilai sangat bagus sekali. Dengan dana penelitian yang cukup besar, tapi kenapa banyak profesor-profesor di Lampung ini tidak bisa mengatasi persoalan-persoalan petani tomat di Lampung Barat ketika harga anjlok. Seharusnya bisa. Misalnya persoalan pasca panen," katanya.

Bang Aca berharap perguruan-perguruan tinggi bisa membahas persoalan-persoalan yang ada di Lampung.

"Sumber daya alamnya ada. Kita berharap hasil penelitian bisa betul-betul berdampak mengatasi persoalan-persoalan yang ada," tegasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: