Wujudkan Kurikulum Merdeka Belajar, 14 Sekolah di Mesuji Jadi Sekolah Penggerak

Wujudkan Kurikulum Merdeka Belajar, 14 Sekolah di Mesuji Jadi Sekolah Penggerak

FOTO DOK. RADAR LAMPUNG - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Mesuji Andi S Nugraha.--

BACA JUGA:Polres Lampung Timur Gelar Operasi Zebra Krakatau, Ini Sasarannya

Kepala Sekolah SMP Negeri 14 Mesuji Prima Warisandi mengatakan bahwa ada 7 tema projek penguatan profil pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka Belajar. 

"Diantaranya gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, bhinneka tunggal ika, bagunlah jiwa dan raganya, suara demokrasi, berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI, dan kewirausahaan," ujarnya. 

Dari 7 tema projek penguatan profil pelajar Pancasila itu, untuk saat ini sedang melaksanakan tema kearifan lokal. 

Sebab, kata dia sebelumnya SMP Negeri 14 Mesuji sendiri telah melaksanakan projek penguatan profil pelajar Pancasila  tentang suara demokrasi. 

BACA JUGA:Setelah Buron 3 Bulan, Tersangka Curanmor Diringkus di Sebuah Gubuk

"Jadi untuk saat ini kita mengambil tema kearifan lokal, dan lebih khusus nya mempelajari makanan tradisional yang ada di Indonesia khusus nya di Kabupaten Mesuji," ungkapnya. 

Oleh karena itu, ia pun menghadirkan pembicara dari kalangan pengusaha kuliner di Kabupaten Mesuji agar bisa memberikan penjelasan mengenai olahan makanan tradisional. 

Selanjutnya, ungkap Prima, kegiatan ini nantinya bakal berlanjut di puncak acara pada November 2022.

"Jadi harapannya dengan kegiatan pembelajaran ini nanti dipuncak acara bakal diadakan festival, di sana produk-produk olahan tradisional yang bakal dibuat oleh para siswa akan dipamerkan dan dijual," terangnya. 

BACA JUGA:Hingga Batas Waktu Berakhir, Sejumlah Sekolah di Lampung Barat Tak Setor Data Non-ASN

Prima menjelaskan Kurikulum Merdeka Belajar ini adalah metode untuk memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk lebih bebas belajar. 

Selain itu juga, ia pun menilai Kurikulum Merdeka Belajar ini lebih menarik dan lebih mengajak siswa untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran. 

"Dan pembelajaran itu terletak kepada siswa, jadi guru hanya sebagai fasilitator," ucapnya. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: