Produksi Perkebunan Besar Tapi Hilirisasi Masih Jadi PR
Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Kemasyarakatan dan SDM Lukman Pura saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Lampung pada Apel Mingguan di Lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Senin 31 Agustus 2026.---Sumber foto : Pemprov.---
RADARLAMPUNG.CO.ID — Provinsi Lampung memiliki basis produksi perkebunan yang besar. Namun, tingginya produksi belum sepenuhnya diikuti peningkatan nilai tambah karena hasil perkebunan rakyat masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Data Pemerintah Provinsi Lampung mencatat, hingga Desember 2025 produksi tujuh komoditas perkebunan utama Lampung mencapai jutaan ton.
Produksi tersebut meliputi kopi robusta 125.578 ton, lada 14.615 ton, tebu 724.608 ton, kakao 49.109 ton, karet 175.424 ton, kelapa dalam 86.655 ton, serta kelapa sawit 437.250 ton dalam bentuk crude palm oil (CPO).
Besarnya produksi tersebut menempatkan sejumlah komoditas Lampung di posisi atas secara nasional. Kopi robusta dan lada Lampung masing-masing berada di peringkat kedua nasional. Begitu pula produksi tebu yang menempati posisi kedua secara nasional.
BACA JUGA:OMC Diperpanjang hingga 2 September 2026
Di sisi lain, kontribusi sektor perkebunan terhadap ekonomi Lampung juga cukup signifikan.
Berdasarkan data BPS Triwulan IV 2025, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang 28,35 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung. Dari kontribusi tersebut, subsektor perkebunan menyumbang 7,32 persen.
Angka itu menunjukkan sektor perkebunan bukan sekadar penyokong produksi komoditas, tetapi memiliki peran besar terhadap struktur perekonomian daerah.
Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Gubernur Lampung Bidang Kemasyarakatan dan SDM Lukman Pura saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Lampung pada Apel Mingguan di Lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Senin 31 Agustus 2026.
BACA JUGA:HUT ke-81 RI di Kota Metro, Wali Kota Ajak Masyarakat Isi Kemerdekaan dengan Kerja Nyata
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut pembangunan perkebunan menjadi salah satu bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“PDRB menjadi salah satu tolak ukur tingkat kesejahteraan penduduk, sehingga pembangunan dan pengembangan pertanian, khususnya sub sektor perkebunan, akan paralel dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung,” ucapnya.
Namun, pemerintah melihat masih ada persoalan yang perlu dibenahi di balik besarnya produksi tersebut. Salah satunya terkait rendahnya pengolahan hasil perkebunan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Menurut Gubernur, hasil perkebunan khususnya yang berasal dari perkebunan rakyat masih didominasi produk mentah atau raw material.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


