HUT 77 RI

SPBU di Bandar Negeri Suoh Lebih Utamakan Pembeli BBM Dengan Jeriken?

SPBU di Bandar Negeri Suoh Lebih Utamakan Pembeli BBM Dengan Jeriken?

Ilustrasi/Sumber foto https://www.federaloil.co.id--

LAMPUNG BARAT, RADARLAMPUNG.CO.IDPelayanan Stasiun Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pekon Gunung Ratu, Kecamatan Bandarnegeri Suoh (BNS), Lampung Barat dikeluhkan. Pasalnya satu-satunya SPBU yang melayani masyarakat dua kecamatan, Suoh dan BNS tersebut diduga lebih mengutamakan penjualan BBM jenis Pertalite dengan menggunakan jeriken.

Hal ini bertentangan dengan Surat Edaran Menteri ESDM Nomor 13/2017 tentang Ketentuan Penyaluran Bahan Bakar Minyak Melalui Penyalur. Pembelian Pertalite memakai jeriken dilarang.

Sebab Pertalite kini sudah menjadi jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) yang diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 37.K/HK.02/MEM.M/2022 tentang Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan.

BACA JUGA: Jesse Mendes-Sophie McCulloch Juara Krui Pro QS5000

Kondsi tersebut dikeluhkan masyarakat. Bahkan ada yang mengirimkan surat terbuka kepada Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus dan Ketua DPRD Edi Novial.

Dalam surat terbuka tersebut dijelaskan, saat ini harga jual BBM di masyarakat mencapai Rp12 ribu untuk pertalite dan Rp14 ribu untuk pertamax serta Rp9.000 untuk solar di tingkat eceran. Sementara SPBU di Kecamatan BNS sering kehabisan stok Pertalite.

Anggota DPRD Lambar Sugeng Hari Kinaryo Adi mengungkapkan, keluhan masyarakat tersebut sudah terjadi cukup lama. Bahkan ia telah melakukan pengecekan langsung.

"Saya sendiri beberapa kali hendak melakukan pengisian, sekaligus mau mengecek kebenaran informasi yang saya terima. Ternyata apa yang dikeluhkan masyarakat itu benar," kata Sugeng, Jumat (17/6)

BACA JUGA: Ini Daftar Pelanggan Bisnis dan Industri PLN, tak Terdampak Penyesuaian Tarif

Sugeng mengaku memergoki mobil Mitshubishi L300 penuh muatan BBM Pertalite. Diduga pihak SPBU lebih mengutamakan pembelian dengan menggunakan jeriken, dibanding masyarakat yang datang membeli langsung.

"Saya pernah pergoki L-300 penuh dengan BBM. Ada tiga tumpuk jeriken yang diduga Pertalite. Setelah saya coba tanya ke salah satu pengecor, BBM Pertalite mereka beli dengan harga Rp8.800 per liter dari SPBU. Ini saja sudah menyalahi, karena tidak sesuai dengan harga yang semestinya, yakni Rp7.600 per liter," papar Sugeng.

Mahalnya harga beli di SPBU tersebut, terus Sugeng, tentu berdampak terhadap harga jual pengecer di masyarakat. Di mana saat ini harga jual BBM jenis Pertalite di tingkat pengecer mencapai Rp12 ribu per liter.

BACA JUGA: Lakalantas di Jalinbar Tanggamus, Satu Luka

Sementara belum ada keterangan dari pihak pengelola SPBU Gunung Ratu. Beberapa kali dihubungi, ponsel Reno, pengelola SPBU tidak aktif. (nop/ais)

Sumber: