Kasus El Nino, Kekeringan dan Gagal Panen Menghantui Petani Padi di Mesuji

Kasus El Nino, Kekeringan dan Gagal Panen Menghantui Petani Padi di Mesuji

Daerah-daerah di Indonesia yang menjadi penghasil padi terbesar. ILUSTRASI/FOTO YOUTUBE Garut Turunan Kidul--

RADARLAMPUNG.CO.ID - Fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah yang kita kenal dengan sebutan El Nino, menyebabkan menurunnya curah hujan di wilayah Indonesia dan tentunya memicu terjadinya kekeringan.

Kondisi tersebut juga berdampak pada sektor tanaman pangan khususnya padi pada masa vegetative yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan padi bahkan bisa sampai gagal panen (puso).

Namun, hal itu tidak berdampak buruk bagi kondisi pertanian di Kabupaten Mesuji. Sebab, berdasarkan data yang di rilis oleh Dinas Pertanian setempat, kondisi stok pangan di Mesuji masih aman. Bahkan, menurut Kadis Pertanian Mesuji Pariman, Mesuji mengalami surplus beras.

BACA JUGA:Dua Tahun Terbentuk, Holding Ultra Mikro Layani 36 Juta Debitur dan 162 Juta Nasabah Simpanan

Pariman mengatakan, bahwa musim tanam padi ke dua yaitu musim tanam gadu di Mesuji sudah di lakukan percepatan tanam sebagai upaya antisipasi dampak El Nino.

“Dan itu sudah di mulai pada bulan april sampai dengan juli 2023, dengan total luas tanam sebanyak 30.088 ha, dari total luas lahan seluas 30.611 ha,” jelasnya.

Masih dikatakan Pariman, sampai dengan 31 Agustus sudah di panen seluas 18.797 ha, dan yang akan panen di bulan september seluas 10.379 ha. Namun, di prediksi ada lahan seluas 164 ha di enam desa yang ke semuanya berada di Kecamatan Rawa Jitu Utara.

BACA JUGA:Ratu Narkoba Terungkap dari Pendalaman 27 Tersangka

Enam Desa yang berpotensi gagal panen akibat kekeringan, dengan jumlah luasan lahan seluas 164 haktare tersebut yakni berada di Desa Panggung Rejo, Sidang Makmur, Way Puji, Sidang Iso Mukti, Sidang Sido Rahayu dan Sidang Muara Jaya.

“Ke enam desa tersebut berada di Kecamatan Rawa Jitu Utara. Mereka terancam gagal panen akibat kekeringan dan air yang tersedia sudah payau, tidak memungkinkan lagi di manfaatkan untuk mengairi tanaman padi,” ungkap pariman.

Sementara lanjut dia, produksi gabah yang dihasilkan pada musim tanam ke dua sebanyak 170.518 Ton GKP, bila di konversi menjadi beras sebanyak 107.420 ton beras.

BACA JUGA:Pengabdian Masyarakat, Dosen-Mahasiswa Universitas Aisyah Pringsewu Lampung Beri Pelatihan Pijat Balita

Pariman menambahkan bahwa produksi beras Mesuji di rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan beras masyarakat disana. Hal ini karena kebutuhan beras penduduk di Mesuji sebanyak 20.299 ton beras per tahun dengan asumsi 87.24 kg/kapita/tahun di kalikan dengan 232.685 jiwa.

“Sedangkan produksi 107.420 ton beras di kurangi dengan 20.299 ton beras per tahun, maka Kabupaten Mesuji malah terjadi surplus beras sebanyak 87.121 ton,” tutup Pariman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: